Anak pertama korban, Fiandy A Putra (33), menolak anggapan bahwa kematian ayahnya sekadar akibat perampokan. Ia meyakini ada unsur perencanaan dalam pembunuhan tersebut. “Bapak saya sudah sembilan tahun lalu pensiun dari PT JICT, anak perusahaan Pelindo. Apa yang dilakukan ayah saya adalah suatu hal yang kami tahu bersama seperti apa risikonya,” ujarnya. Fiandy menduga insiden ini berkaitan dengan keberanian sang ayah dalam mengungkap kebenaran dan memperjuangkan nasib para pekerja.
Sebelum tragedi itu, Ermanto sempat tampil dalam sebuah podcast Forum Keadilan TV. Dalam kesaksiannya, ia berulang kali menyebut nama-nama tokoh besar yang diduga terlibat dalam korupsi pengelolaan terminal, di antaranya Erick Thohir, Garibaldi Thohir (Boy Thohir), Patrick Sugito Waluyo, dan Rini Soemarno. Kesaksian tersebut menjadi sorotan karena jumlah penyebutan yang berulang kali memperlihatkan betapa seriusnya tudingan yang ia lontarkan.
Keberanian Ermanto untuk berbicara terbuka dianggap sebagai salah satu faktor yang menimbulkan risiko besar. Beberapa pekan setelah kesaksian itu beredar, ia dan istrinya ditemukan tewas. Kronologi ini memperlihatkan bagaimana keberanian membuka tabir dugaan korupsi berujung pada tragedi yang memilukan.
Kasus ini menjadi pelajaran pahit bahwa membongkar korupsi tidak bisa dilakukan sendirian. Laporan harus disertai bukti kuat dan pendampingan dari LSM agar tidak mudah dimentahkan. Lembaga swadaya masyarakat berperan penting sebagai pengawal, baik dalam aspek hukum maupun advokasi. Jalur resmi seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi tempat yang tepat untuk melaporkan dugaan korupsi, sementara Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) hadir untuk memberikan perlindungan bagi saksi dan pelapor. Tanpa dukungan kelembagaan, keberanian individu sering kali berhadapan dengan sistem yang keras dan berbahaya.
Kematian Ermanto dan Pasmilawati bukan hanya tragedi keluarga. Ia adalah alarm keras bagi bangsa, bahwa di negeri ini, keberanian membuka kebenaran bisa dibayar dengan darah. Dan selama sistem dibiarkan rapuh, siapa pun yang berani melawan arus akan selalu berisiko dibungkam dengan cara paling kejam. (NN)


Tidak ada komentar:
Write Comments